Kolom Iklan

Tampilkan postingan dengan label SEKILAS AGAMA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEKILAS AGAMA. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Agustus 2008

ARTI TAKWA ADALAH CINTA

Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A.



Musibah ada di mana-mana dan bisa terjadi kapan saja. Yang penting bagi kita ialah bagaimana menyikapi musibah itu seandainya ia datang menimpa kita atau anggota keluarga kita. Misalnya hujan. Curah hujan yang melebihi batas normal kadang-kadang tidak lagi berfungsi sebagai rahmat, tetapi bisa menjadi suatu laknat, apalagi jika mendatangkan banjir. Dengan demikian, ini bisa disebut dengan musibah kecil. Seperti kita tahu, musibah atau kesulitan-kesulitan hidup itu sisi lain dari kehendak Tuhan untuk menyapa hamba-Nya. Seolah-olah Allah merindukan hamba-Nya, sehingga Dia merindukan mereka dalam bentuk musibah. Musibah adalah sebentuk surat cinta Tuhan kepada kekasih-Nya.

Kenapa musibah disebut surat cinta? Karena mungkin pada suatu saat, seseorang itu tidak sanggup untuk mendekati Tuhan, terlena dengan kemewahan duniawi yang ada pada dirinya, sehingga tertutup pintu batinnya, tidak lagi sensitif dan tidak lagi ada kerinduan terhadap Tuhannya. Seringkali kerinduan terhadap Tuhan itu muncul manakala dipancing oleh hadirnya musibah. Seringkali tanpa musibah, seseorang lupa terhadap Allah Swt. Pengalaman-pengalaman yang mengecewakan, seperti adanya gangguan-gangguan yang menghambat normalitas kehidupan kita, harus dimaknai bahwa ini adalah cara Tuhan untuk mengingatkan kita.

Allah berfirman: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (QS. Ali Imrân [3]: 102)

Ayat ini merupakan panggilan khusus untuk orang yang beriman. Mereka diminta untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa, dengan puncak takwa. Meskipun di dalam ayat lain dikatakan, "Bertakwalah kepada Allah sebatas kemampuanmu." (QS. At-Taghabûn [64]: 16). Allah Maha adil. Kalau seandainya standar ketakwaan itu memakai standar ketakwaan Rasulullah, atau para aulia, kita sebagai orang awam tentu sulit untuk mencapainya. Tetapi Allah Mahatahu bahwa tidak semua hamba-Nya sama pengalaman batinnya dan tingkat makrifahnya.

Apa perbedaan ayat pertama dan ayat kedua?

Ayat pertama meminta kita untuk bersikap maksimal mewujudkan ketakwaan itu di dalam diri kita. Tetapi kalau kita sudah berusaha, dan ternyata masih jauh dari standar ketakwaan itu, jangan khawatir karena ada firman Allah yang lain, "Bertakwalah sebatas kemampuanmu." Jangan berkecil hati kalau ketakwaan kita tidak bisa menyamai Rasulullah dan para wali. Yang penting kita sudah berusaha sekuat kemampuan kita, kemudian terimalah apa adanya diri kita.

Apa yang dimaksud dengan takwa?

Banyak orang mengartikan takwa sebagai takut terhadap Allah. Sebetulnya terjemahan ini tidak sepenuhnya tepat. Memang salah satu pengertian takwa adalah takut, tapi itu hanya kira-kira 30% benarnya. Takut hanya salah satu komponen dari takwa, tetapi komponen terbesarnya bukan takut. Komponen yang sangat penting dari takwa adalah cinta kepada Allah. Di kalangan sufi, takwa itu diartikan dengan cinta terhadap Allah. Di kalangan fukaha, takwa itu adalah takut terhadap Allah. Kombinasi antara takwa dan takut, itulah pengertian takwa yang ideal bagi kita.

Sesungguhnya Allah Swt. bukanlah sosok yang sangat mengerikan sehingga kita harus takut terhadap-Nya. Melainkan Allah Swt. adalah sosok yang Mahaindah untuk dicintai, sosok yang Maha Pengasih, sosok yang Mahalembut. Dengan demikian, takwa itu di satu sisi kita takut dan segan kepada Allah, di sisi lain, kita mencintai-Nya.

Miniatur sikap kita terhadap Allah itu persis sikap kita terhadap kedua orang tua kita. Di satu sisi kita segan dan takut terhadap orang tua, pada sisi lain kita juga butuh dan cinta terhadap mereka. Sekalipun kita dimarahi, sekalipun kita dipukul, tetap orang yang paling kita cintai adalah kedua orang tua kita. Sekalipun Tuhan menurunkan musibah, sekalipun Tuhan sering menguji kita, tetapi yang kita cintai hanya Allah Swt. Inilah pengertian kongkret yang bisa kita ukur dari pengertian takwa.

Bertakwalah kepada Allah Swt., artinya takutilah dan cintailah Allah Swt. Kadang-kadang Allah tampil sebagai sosok yang Mahabesar untuk ditakuti, terutama bagi para pendosa. Bagi orang yang baru saja melakukan dosa, di situ Tuhan akan tampil sebagai Yang Maha adil, Yang Maha Penghukum, bahkan Yang Maha Penyiksa, sehingga orang yang berdosa menjadi ciut nyalinya dan tidak berani lagi melakukan dosa.

Tapi Allah Swt. akan tampil sebagai sosok yang Maha Mencinta di hadapan orang yang melakukan ibadah. Orang yang melakukan ibadah dan kebaikan-kebaikan dengan ikhlas, tidak usah takut terhadap Allah. Baginya, yang paling tepat adalah mencintai Allah.

Siapapun orang yang beriman, yang berdosa pasti akan merasa takut kepada Allah. Dan siapapun orang yang beriman, yang telah beribadah dengan sungguh-sungguh dan ikhlas, pasti ada muncul rasa cinta di dalam dirinya kepada Allah dan harapan yang besar untuk mendapatkan cinta-Nya. Dengan demikian, pola relasi manusia dan Tuhan adalah pola relasi takut dan cinta. Inilah Islam.

Agama-agama lain tunggal pola relasinya, dan umumnya mengandalkan pola relasi takut kepada Tuhannya atau dewa-dewanya. Itulah sebabnya dalam agama lain diperlukan mediasi antara manusia dan Tuhannya atau dewanya. Bahkan ada yang menggambarkan dewanya dengan gambaran yang mengerikan. Kalau perlu dibuatkan patungnya dengan sosok yang besar, wajah yang angker, taringnya mencuat, bahkan membawa alat pemukul (gada). Supaya apa? Itu sebagai mediasi agar jiwa si penyembah takut kepada yang disembahnya. Semakin takut, semakin tinggi kedekatannya dengan Tuhan. Semakin takut, semakin hebat ibadahnya.

Dalam Islam tidak mesti seperti itu. Allah Swt. bukan sosok yang Maha Mengerikan untuk ditakuti, tapi lebih menonjol sebagai Tuhan Maha Penyayang untuk dicintai. Kalau pola relasi kita itu takut, kita akan menggambarkan Tuhan itu transenden, jauh sekali. Tapi kalau pola relasi cinta yang kita bangun, seolah-olah Tuhan itu amat dekat dengan diri kita. Firman Allah dalam Alquran: "Sesungguhnya Aku lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya sendiri." (QS. Qâf [50]: 16)

Di kalangan sufi sering muncul pertanyaan, apakah Tuhan berada dalam diriku ataukah aku berada dalam diri Tuhan? Begitu dekatnya Tuhan dengan hamba, dan kedekatan ini polanya adalah relasi cinta. Hemat saya, inilah pola yang paling tepat bagi kita untuk mendekati Tuhan, yaitu pola relasi cinta. Pola relasi takut, bawaannya adalah formalitas, kering, dan kaku, serta sangat dipengaruhi oleh mood. Tapi pola relasi cinta lebih permanen sifatnya, segar, damai, dan menjanjikan harapan yang indah.

Maka berusahalah untuk lebih mencintai Tuhan, cinta dan cinta kepada Tuhan. Itulah takwa. Sehingga kalau berdoa pun, doanya seperti kaum sufi, "Ya Allah, aku menyembah Engkau bukan karena mengharap surga-Mu, dan aku meninggalkan maksiat bukan karena takut neraka-Mu. Masukkan aku ke neraka-Mu kalau aku menyembah-Mu karena takut neraka. Jauhkan aku dari surga-Mu jika aku menyembah-Mu karena ingin surga. Aku menyembah kepada-Mu, ya Allah, semata-mata karena cintaku yang sangat dalam kepada-Mu."

Luar biasa. Inilah nanti yang memancar dampaknya dalam masyarakat. Apapun yang kita lakukan, penuh dengan kedamaian. Termasuk saat tertimpa musibah atau kesedihan pun, hati kita akan tetap tenang dan ikhlas. Berjumpa dengan saudara, dengan kawan, tersenyum. Damai bawaannya. Kalau cinta terhadap Tuhan membara dalam diri setiap hamba, maka kedamaian antar sesama manusia pun akan tercipta. Insya Allah.

hakekat takwa

from:http://ustadzkholid.wordpress.com/2007/12/25/hakekat-takwa/

Takwa sangat penting dan dibutuhkan dalam setiap kehidupan seorang muslim. Namun masih banyak yang belum mengetahui hakekatnya. Setiap jum’at para khotib menyerukan takwa dan para makmumpun mendengarnya berulang-ulang kali. Namun yang mereka dengar terkadang tidak difahami dengan benar dan pas.Pengertian Takwa.Untuk mengenal hakekat takwa tentunya harus kembali kepada bahasa Arab, karena kata tersebut memang berasal darinya. Kata takwa (التَّقْوَى) dalam etimologi bahasa Arab berasal dari kata kerja (وَقَى) yang memiliki pengertian menutupi, menjaga, berhati-hati dan berlindung. Oleh karena itu imam Al Ashfahani menyatakan: Takwa adalah menjadikan jiwa berada dalam perlindungan dari sesuatu yang ditakuti, kemudian rasa takut juga dinamakan takwa. Sehingga takwa dalam istilah syar’I adalah menjaga diri dari perbuatan dosa.Dengan demikian maka bertakwa kepada Allah adalah rasa takut kepadaNya dan menjauhi kemurkaanNya. Seakan-akan kita berlindung dari kemarahan dan siksaanNya dengan mentaatiNya dan mencari keridhoanNya.Takwa merupakan ikatan yang mengikat jiwa agar tidak lepas control mengikuti keinginan dan hawa nafsunya. Dengan ketakwaan seseorang dapat menjaga dan mengontrol etika dan budi pekertinya dalam detiap saat kehidupannya karena ketakwaan pada hakekatnya adalah muroqabah dan berusaha keras mencapai keridhoan Allah serta takut dari adzabNya.Sangat pas sekali definisi para ulama yang menyatakan ketakwaan seorang hamba kepada Allah adalah dengan menjadikan benteng perlindungan diantara dia dengan yang ditakuti dari kemurkaan dan kemarahan Allah dengan melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.Berikut ini beberapa ungkapan para ulama salaf dalam menjelaskan pengertian takwa:1. Kholifah yang mulia Umar bin Al Khothob pernah bertanya kepada Ubai bin Ka’ab tentang takwa. Ubai bertanya: Wahai amirul mukminin, Apakah engkau pernah melewati jalanan penuh duri? Beliau menjawab: Ya. Ubai berkata lagi: Apa yang engkau lakukan? Umar menjawab: Saya teliti dengan seksama dan saya lihat tempat berpijak kedua telapak kakiku. Saya majukan satu kaki dan mundurkan yang lainnya khawatir terkena duri. Ubai menyatakan: Itulah takwa.[1]2. Kholifah Umar bin Al Khothob pernah berkata: Tidak sampai seorang hamba kepada hakekat takwa hingga meninggalkan keraguan yang ada dihatinya.3. kholifah Ali bin Abi Tholib pernah ditanya tentang takwa, lalu beliau menjawab: Takut kepada Allah, beramal dengan wahyu (Al Qur’an dan Sunnah) dan ridho dengan sedikit serta bersiap-siap untuk menhadapi hari kiamat.4. Sahabat Ibnu Abas menyatakan: Orang yang bertakwa adalah orang yang takut dari Allah dan siksaanNya.5. Tholq bin Habib berkata: takwa adalah beramal ketaatan kepada Allah diatas cahaya dari Allah karena mengharap pahalaNya dan meninggalkan kemaksiatan diatas cahaya dari Allah karena takut siksaanNya6. ibnu Mas’ud menafsirkan firman Allah: اتَّقُواْ اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ dengan menyatakan: Taat tanpa bermaksiat dan ingat Allah tanpa melupakannya dan bersyukur.Takwa ada dikalbu.Takwa adalah amalan hati (kalbu) dan tempatnya di kalbu, dengan dasar firman Allah Ta’ala:Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati. (QS. 22:32) . dalam ayat ini takwa di sandarkan kepada hati, karena hakekat takwa ada dihati. Demikian juga firman Allah:Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertaqwa. (QS. 49:3)Sedangkan dalil dari hadits Nabi n tentang hal ini adalah sabda beliau: التَّقْوَى هَهُنَا التَّقْوَى هَهُنَا التَّقْوَى هَهُنَا ويُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ [ثَلاَثَ مَرَّاتٍ] بِحَسْبِ امْرِىءٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ اْلمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُّهُ وَعِرْضُهُ Takwa itu disini! Takwa itu disini! Takwa itu disini! –dan beliau mengisyaratkan ke dadanya (Tiga kali). Cukuplah bagi seorang telah berbuat jelek dengan merendahkan saudara muslimnya. Setiap muslim diharamkan atas muslim lainnya dalam darah, kehormatan dan hartanya. (HR Al Bukhori dan Muslim ). Juga hadits Qudsi yang masyhur dan panjang dari sahabat Abu Dzar. Diantara isinya adalah:يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا Wahai hambaKu, seandainya seluruh kalian yang terdahulu dan yang akan datang, manusia dan jin seluruhnya berada pada ketakwaan hati seorang dari kalian tentulah tidak menambah hal itu sedikitpun dari kekuasaanKu. (HR Muslim)Dalam hadits ini ketakwaan disandarkan kepada tempatnya yaitu kalbu. Namun walaupun ketakwaan adalah amalan hati dan adanya dihati, tetap saja harus dibuktikan dan dinyatakan dengan amalan anggota tubuh. Siapa yang mengklaim bertakwa sedangkan amalannya menyelisihi perkataannya maka ia telah berdusta.Ketakwaan ini berbeda-beda sesuai kemampuan yang dimiliki setiap individu, sebagaimana firman Allah :فاتّقوا اللّهَ ما استَطَعتُمBertakwalah kepada Allah semampu kalian.Mudah-mudahan Allah memberikan kepada kita ketakwaan yang sempurna.



[1] Al Jaami’ Liahkam Al Qur’an karya Al Qurthubi 1/162

Jumat, 30 Mei 2008

Tugas Ulama

Tugas Ulama

Abu Darda menuturkan bahwa Rasulullah saw. Pernah bersabda:

«وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ إِنَّ اْلأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ»

Keutamaan ulama atas ahli ibadah bagaikan keutamaan bulan terhadap seluruh bintang-bintang. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, melainkan mewariskan ilmu. Karena itu, siapa saja yang mengambilnya, ia telah mengambil bagian (tanggung jawab) yang besar.” (HR at-Tirmidzi dan Abu Dawud).

Tanggung jawab yang dimaksud adalah tanggung jawab mengemban misi risalah para nabi untuk menuntun umat manusia pada hidayah.

Warisan para nabi berupa ilmu itu tidak serta-merta bisa dimiliki sebagaimana warisan dalam bentuk harta. Siapa yang ingin memperoleh warisan ilmu itu, ia harus berupaya meraihnya. Muawiyah menuturkan, Rasul saw. Pernah bersabda:

«يَا أَيُّهَا النَّاسَ تَعَلَّمُوْا، إِنَّمَا الْعِلْمُ باِلتَّعَلُّمِ، وَالْفِقْهُ بِالتَّفَقُّهِ، وَمَنْ يُرِدْ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِيْ الدِّيْنِ»

Wahai manusia, belajarlah kalian, sesungguhnya ilmu itu tidak lain diperoleh dengan belajar, pemahaman itu dengan pendalaman. Siapa saja yang Allah kehendaki kebaikannya, Dia akan memahamkannya dalam masalah agama.” (HR Ibn Abi Ashim dan ath-Thabrani).

Kedua hadis tersebut menjelaskan jenis keilmuan yang harus dimiliki ulama sebagai pewaris nabi sehingga keilmuannya bisa dijadikan pegangan dan dia layak dijadikan panutan. Ibn Hajar mengatakan dalam Fath al-Bâri, “Maknanya adalah bahwa ilmu yang bisa dijadikan pegangan (al-’ilm al-mu‘tabar) tidak lain adalah ilmu yang diambil dari nabi dan para ulama mewarisinya dengan jalan mempelajari.” Di dalamnya adalah termasuk ilmu fikih, yaitu pemahaman tetang hukum-hukum syariah; ulama yang menguasainya layak disebut fakih (fukaha). Dari sini, seorang ulama, seorang fakih, hanyalah diketahui dari keilmuan dan pemahamannya tentang ilmu agama dan hukum-hukum syariah; ia tidak dikenali karena ia keturunannya atau karena mengenakan jubah dan sorban.

Sebagai pewaris nabi, ulama memiliki tugas yang berat namun amat mulia, yaitu tugas mengemban risalah para nabi. Rasul saw. Mengumpamakan ulama bagaikan bintang yang menerangi kegelapan di laut dan di daratan (HR Ahmad).

Dengan keilmuan mereka, pemikiran sesat bisa tersingkirkan, keragu-raguan di dalam jiwa bisa tertepiskan, kebengkokan bisa diluruskan, kerusakan bisa diperbaiki dan kezaliman bisa terhalangi. Ulama harus mengajarkan al-Quran dan as-Sunah, mengajarkan kebenaran, menjelaskan kezaliman orang yang zalim, menunjukkan kerusakan orang yang berbuat kerusakan, dan menerangkan kemaksiatan orang yang berbuat maksiat.

Adab Bertamu

ADAB-ADAB BERTAMU

1. MEMINTA IZIN TERLEBIH DAHULU

Ini adalah mematuhi arahan yang disuruh oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam ayat 27 hingga 29 surah An-Nur yang bermaksud:
27. Hai orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik itu lebih bagimu agar kamu (selalu) ingat.
28.Jika kamu tidak menemui seorangpun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu:"Kembalilah", Maka hendaklah kamu kembali Itu lebih baik bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
29.Tidak ada dosa atasmu memasuki rumah yang tidak disediakan untuk didiami, yang di dalamnya ada keperluanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan.

Kita diminta memberi salam, mengetuk pintu ataupun menekan loceng sebanyak tiga kali secara berselang bukannya berturut-turut . Ini adalah bagi memastikan tuan rumah ada di rumah dan kemungkinan besar dia tidak menyahut atau menjawab panggilan kita kerana tugasan atau pun ada masalah lain. Jika kita telah melakukan perkara ini tetapi tiada jawapan maka kita hendaklah pulang. Begitu juga apabila tuan rumah tidak mengizinkan kita untuk masuk maka janganlah kita membantahnya dengan perkataan ataupun perbuatan. Jangan simpan dendam tetapi tanamkan dalam diri sikap baik sangka yang mana kemungkinan waktu ziarah tidak sesuai ataupun dia ada masalah lain.

Imam Bukhari, Muslim dan Abu Daud telah meriwayatkan bahawa Rasulullah S.A.W telah bersabda : Apabila seseorang itu telah meminta keizinan sebanyak tiga kali tetapi tidak diberi keizinan maka dia hendaklah pulang.

Di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ahmad Hambal daripada Qais bin Saad bin Ibadah telah menceritakan bahawa Rasulullah S.A.W telah datang ke rumahnya dan telah memberi tiga kali salam secara berselang-seli yang mana setiap salam telah dijawab oleh Qais secara perlahan. Ini menyebabkan Rasulullah S.A.W tidak mendengar jawapan itu dan setelah cukup tiga kali berbuat demekian maka baginda S.A.W berpaling untuk beredar dari rumah Qais. Apabila melihat perkara ini, maka Saad terus mengekori Rasulullah S.A.W dan ketika bersaing dengan baginda S.A.W, dia memberitahu bahawa mereka telah menjawab salam tetapi secara perlahan bertujuan supaya baginda S.A.W memberi salam kepada mereka banyak kali sebagai doa buat mereka.Mendengar penjelasan itu maka Rasulullah S.A.W terus menuju kembali ke rumah Qais bersama dengan Saad.

Jika kita menziarahi rumah teman yang begitu erat hubungannya dengan kita dan dia sendiri telah mengizinkan kita untuk masuk ke rumahnya bila-bila masa sahaja maka bolehlah kita berbuat demekian tanpa menunggu izinnya. Hasan Al-Basri pernah menyatakan bahawa beliau membenarkan seorang sahabat beliau masuk bukan sahaja ke dalam rumah malah sehingga ke dapur walaupun dia tidak meminta izin daripada beliau terlebih dahulu.


2. MENJAGA MATA

Kita mestilah menjaga mata agar tidak melihat perkara yang ada di dalam rumahnya terutama apabila kita melawat rumah mutazawwij ( berkeluarga ). Ini bagi memastikan kita tidak terpandang perkara yang haram. Rasulullah S.A.W telah bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh imam Abu Daud :'' Sesiapa yang melihat kitab saudaranya tanpa terlebih dahulu mendapat keizinannya maka dia sebenarnya telah melihat neraka''. Jika kitab pun kita dilarang melihatnya tanpa keizinan tuannya, apatah lagi perkara yang lain terutama sesuatu yang merupakan rahsia bagi tuan rumah yang dilawati.Abu Daud telah meriwayatkan daripada Abdullah bin Basar telah memberitahu bahawa Rasulullah S.A.W apabila melawat seseorang maka baginda tidak akan memandang ke arah hadapan melainkan baginda memaling muka ke arah kiri atau kanan dan barulah memberi salam.Ini bagi mengelak daripada melihat sesuatu yang berada di dalam rumah orang yang dilawat terutama perkara yang haram dilihat.

Di dalam sohih Bukhari dan Muslim ada meriwayatkan bahawa Rasululllah S.A.W telah bersabda : Sekiranya seseorang itu memandang kepadamu(rumah) tanpa keizinan maka kamu hendaklah melontarnya dan kamu juga dikehendaki menutup dengan kasar kedua matanya sekiranya kamu mampu berbuat demikian.

Abu Daud meriwayatkan bahawa Rasulullah S.A.W telah bersabda : Sesiapa yang memandang rumah seseorang tanpa mendapat keizinan daripadanya maka tutuplah kedua matanya dengan kasar, maka sesungguhnya aku telah menegah daripada perbuatan itu.

Daripada hadis-hadis ini dapat kita simpulkan bagaimana Islam sangat mengambil berat mengenai penjagaan mata daripada melihat sesuatu yang ditegah apatah lagi perkara haram.Oleh itu, jagalah mata kita daripada memandang sesuatu di dalam rumah orang yang dilawati tanpa mendapat keizinannya terlebih dahulu.Begitu juga ketika berada di mana sahaja agar kita dapat sama-sama menghindari maksiat mata. Ingatlah bahawa setiap anggota badan kita akan menjadi saksi kepada segala amalan kita di akhirat nanti.

3. MENJAGA PERCAKAPAN

Memastikan percakapan kita tidak menyakiti hati tuan rumah dan jangan tinggikan suara sehingga mengganggu ahli rumah yang lain terutama ketika berlangsungnya peperiksaan, waktu malam yang mana kemungkinan akan mengganggu ahli rumah yang lain yang hendak tidur dan sebagainya. Ingatlah firman Allah dalam surah Lukman ayat 19 yang bermaksud : Dan sederhanakanlah kamu semasa berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara itu ialah suara keldai.Jangan berbual perkara yang sia-sia dan melanggar syariat Islam seperti mengumpat dan mencaci. Renungilah maksud firman Allah dalam ayat 12 surah al-Hujurat : wahai orang-orang yang beriman, hindarilah kebanyakan daripda buruk sangka, sesungguhnya sebahagian daripada buruk sangka itu merupakan dosa. Dan janganlah kamu mencari kesalahn orang lain dan janganlah pula sebahagian kamu mengumpat sebahagian yang lain. Adakah kamu suka memakan daging saudara kamu sendiri yang sudah mati? Maka sudah tentu kamu berasa jijik untuk berbuat demekian. Dan takutlah kepada Allah,sesungguhnya Allah Maha Menerima taubat lagi Maha Mengasihani.
Jangan berbual terlalu lama sehingga mengganggu masa tuan rumah terutama jika kita tahu dia mempunyai tugasan lain yang perlu diselesaikan. Berbuallah perkara yang dapat menambah pengetahuan terutama yang bersangkutan dengan pelajaran, masalah umat dan mengerat hubungan serta mahabbah.



4. BERTERIMA KASIH

Mengucapkan terima kasih di atas segala layanan yang telah diberikan.Bersalaman sebelum berpisah di samping mengucap kata-kata yang disukai oleh tuan rumah. Sentiasa menjaga rahsia jika ada sama ada berkaitan dengan dirinya,rumah ataupun ahli yang lain agar persahabatan yang di semai terus subur serta segala permasalahan dapat dielakkan.

Kisah Tentang Ashabul Kahfi

Ashabul Kahfi adalah sekelompok pemuda yang beriman kepada Allah, mereka terdiri atas tujuh orang, sebagaimana yang dijelaskan dalam Al Qur`an. Dalam gua, para pemuda mukmin ini tinggal untuk merenung dan berpikir, akhirnya mereka keluar dengan sebuah kesimpulan yang pasti bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan seluruh alam, mereka tidak akan beriman kecuali kepada-Nya dan tidak akan menyembah selain Dia.

Mereka mengetahui bahwa kaum mereka adalah orang-orang kafir, karena menyembah selain Allah. Kekafiran mereka menyebabkan kezaliman dan kebohongan. Para pemuda mukmin ini lalu memikirkan langkah berikutnya, yaitu dengan mengasingkan diri, lalu memutuskan untuk meninggalkan kaumnya, karena mereka adalah orang yang beriman sedang kaumnya adalah kaum yang kafir, dan tidak mungkin bagi para pemuda itu untuk tinggal bersamanya.

Mereka lalu meninggalkan kota dan pergi ke sebuah gunung, kemudian memutuskan untuk berlindung dalam gua di gunung itu. Mereka memohon kepada Allah agar mencurahkan rahmat-Nya bagi mereka. Allah mengabulkan permohonan mereka. Rahmat Allah diturunkan kepada mereka, Dia memerintahkan matahari agar tidak menyinari tubuh mereka, sehingga tidak merusaknya.

Diantara tanda-tanda kekuasaan Allah atas mereka adalah bahwa mata mereka tetap terbuka, sehingga orang yang melihat menyangka mereka terjaga dan dapat melihat, padahal mereka tidur nyenyak. Bahkan, bumi tidak menelan tubuh mereka, karena Allah membalikkan mereka sesekali ke kanan dan ke kiri.

Bersama mereka ada seekor anjing yang menjadi teman mereka. Anjing itu duduk di ambang pintu gua, menjunlurkan kedua lengannya, dan tidur seperti penghuni gua itu. Sehingga tidak seorang pun yang berani mengganggu mereka ketika tidur. Allah telah membuat hati siapa saja yang melihat mereka menjadi takut, jika ia menoleh kepada mereka, ia akan melarikan diri ketakutan.

Mereka tidur cukup lama, disebutkan dalam Al Qur`an selama 309 tahun! Setelah itu, Allah membangunkan mereka, sehingga mereka bertanya-tanya berapa lama mereka tidur, namun mereka berbeda pendapat. Diantara mereka ada yang mengatakan, “Kami tidur selama satu atau setengah hari!”

Akan tetapi mereka tidak memperpanjang perdebatan itu karena memang mereka tidak mengetahuinya, mereka dalam gua.

Lalu mereka menunjuk salah seorang diantara mereka untuk pergi ke kota, membekalinya dengan uang untuk membeli makanan. Demikian pula agar ia waspada dan berhati-hati agar tidak ada seorang pun yang mengenali dan mengetahuinya, karena mereka merasa takut terhadap kaum mereka. Jika mereka mengetahui penghuni gua dan tempat tinggal mereka, niscaya kaumnya akan membunuh mereka atau membujuk mereka agar kembali ke agama mereka dan perbuatan syirik.

Pergilah pemuda itu untuk membeli makanan ke pasar. Namun Allah menghendaki hal lain. Allah ingin menjadikan diantara mereka tanda kekuasaan-Nya dan sebagai bukti atas kemampauan Allah Yang Maha Suci untuk membangkitkan. Allah menampakkan mereka pada kaum mereka. Sementara itu, kaum itu telah menjadi kaum yang beriman kepada Allah, generasi sebelumnya yang kafir telah lenyap. Yang sekarang hidup adalah generasi yang beriman.

Setelah penduduk negeri itu melihat laki-laki mukmin itu, mereka menyusulnya ke gua, tatkala mereka tiba di gua, mereka mendapatkan ketujuh lelaki mukmin itu telah wafat, kali ini benar-benar wafat dalam keadaan yang wajar. Demikianlah akhir kisah tentang iman, ikhlas, dan zuhud di dunia untuk kembali kepada Allah.

KENAPA PEMUDA KAHFI MENINGGALKAN KAUMNYA?

Setelah mereka mengetahui kekuatan dan kekuasaan kaum mereka yang lebih besar dibandingkan dibandingkan dengan kekuatan mereka, sementara mereka menginginkan perubahan.

Kalau mereka tetap ingin menghadapi dan memerangi kaum mereka, pertempuran ini tidak akan seimbang, hasilnya pun dapat ditebak, mereka tidak akan menang.

Mereka juga memperhatikan sikap kaum mereka, tetap berada dalam kekafiran, tidak mendengarkan seruan untuk beriman kepada Allah dan tidak memenuhi ajakan para pendakwah itu. Sebaliknya mereka menindas, menyiksa, dan membunuh mereka. Oleh karena itu, tidak ada manfaat dalam memerangi atau menyeru mereka.

Mempertimbangkan hal itu, mereka merasa bahwa keberadaan mereka diantara kaum mereka tidak berarti apa-apa, sehingga tidak mungkin tetap bersama mereka, mereka bahkan khawatir kaum mereka akan menfitnah dan memalingkan mereka dari keimanan. Tidak ada cara lain bagi mereka, kecuali mengasingkan diri, pergi ke gua, agar iman mereka tetap hidup dan mereka dapat beribadah kepada Allah.

Keputusan mereka untuk mengasingkan diri di dalam gua adalah benar dan tepat, sesuai dengan kenyataan dan kondisi mereka. Oleh karena itu, Allah mengabulkan doa mereka, menurunkan rahmat-Nya, dan menyediakan kebutuhan mereka.

Allah menggambarkan Ash-habul Kahfi sebagai para pemuda, “Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami atambahkan kepada mereka petunjuk.”

Fase kepemudaan adalah masa yang penuh semangat dan dinamika. Sifat ini dipuji dalam Al Quran, juga pemiliknya jika ia melakukan perbuatan mulia dan luhur. Sifat ini juga yang menjadi sumber semangat dan kekuatan bagi para pemuda muslim yang konsisten, bahkan bagi usaha, perjuangan, kesungguhan dan aktivitasnya. Inilah buah yang matang dari sifat kepemudaan yang selalu konsisten dan jujur.

Inilah fase penuh semangat, perjuangan, dan pengorbanan, yang berarti keberanian dan keteguhan. Para pemuda adalah agen perubahan dan reformasi. Mempertimbangkan pengaruh pemuda yang efektif, serta tidak seriusnya umat Islam memanfaatkan potensi dan semangat para pemudanya, musuh-musuh Islam melancarkan perang akidah dan pemikiran terhadap pemuda Islam, menjerumuskan mereka ke dalam kesia-siaan dan permainan, mematikan semangat mereka, membuat mereka cenderung pada kesenangan, pekerjaan, dan kehidupan.

Akan tetapi tidak semua pemuda telah sesat, ada sebagian mereka yang soleh, sebagaimana firman Allah tentang Ash-habul Kahfi, ”Sesungguhnya mereka-mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk”. Dimana mereka memperlihatkan keIslaman mereka, memahaminya dengan sebenar-benarnya, melaksanakannya dengan sebenar-benarnya, dan mendakwahkannya dengan semangat, kesungguhan, dan keikhlasan.

Ayat ini bermaksud menetapkan kebenaran Al Quran yang pasti tentang keimanan dan petunjuk, yaitu iman sesungguhnya adalah sebuah pilihan. Jika seseorang telah memilihnya, menerimanya dengan ikhlas, patuh, dan sungguh-sungguh, maka Allah akan menambahkan keimanan kepadanya. Akan tetapi jika ia tidak mengambil dan memilih jalan itu maka Allah tidak akan memberinya petunjuk, apalagi untuk menambahkan petunjuk kepadanya.

Ikhtisar Pelajaran Terpenting dari Kisah Ash-habul Kahfi

v Kisah Ash-habul Kahfi merupakan bukti Al Quran yang paling menonjol atas pemberian kemuliaan (karomah) bagi pemuda-pemuda yang saleh

v Dalam kisah itu banyak terdapat tanda-tanda kebesaran Allah swt yang menunjukkan adanya Allah, memperkenalkan kita kepada-Nya, dan menjelaskan sebagian sifat dan perbuatan-Nya.

v Merupakan bukti yang paling jelas bahwa Allah memelihara para aulia dan menolong mereka sehingga mereka hidup dalam ketenangan dan menghadapi musuh-musuh mereka dengan teguh.

v Ash-habul Kahfi digambarkan sebagai para pemuda. Gambaran ini merupkan pujian yang mengandung pengertian betapa pentingnya fase kepemudaan itu, fase penuh semangat, dinamika, dan produktivitas

v Seorang muslim harus memenuhi hatinya dengan iman kemudian memohon pada Allah agar meneguhkan hati mereka

v Bergaul dengan orang-orang yang saleh menyebabkan mendapat berkah dari mereka, sedangkan bergaul dengan orang-orang jahat menyebabkan terjerumus dalam kejahatan juga Hendaknya kita meninggalkan masalah-masalah yang tidak mengandung manfaat dan kebaikan serta tidak membuang-buang waktu dengan hal itu.

v Kalimat “Dan hendaklah ia berkata lemah lembut” merupakan sebuah tuntunan Al Quran untuk bersikap lemah lembut dalam kehidupan, hubungan dan interaksi antar sesama

v Kebangkitan Ash-habul Kahfi dari tidur mereka selama beratus-ratus tahun merupakan bukti ilmiah dan nyata yang paling kuat tentang kebangkitan dan hari akhir.

Senin, 12 Mei 2008

Pengertian Ulama

Kata al-‘ulama’ (العلماء) adalah bentuk jama’ dari kata al-‘alim (العليم) yaitu yang memiliki pengetahuan. Selain bentuk jama‘ dari kata al-‘alim juga diambil dari kata al-‘alim (العالم) yaitu mengetahui secara jelas. Makna kata al-‘ulama’ dan al-‘alimun adalah berbeda karena kata al-‘ulama’ adalah jam‘ al-taksir (جمع التكسير) dari kata al-‘alim (العليم) sedangkan kata al-‘alimun adalah jam‘ al-mudhakkar al-salim (جمع المذكر السالم) dari kata al-‘alim (العالم). Kata al-‘ulama’ (العلماء) disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 2 (dua) kali dan kata al-‘alimun (العالمون) sebanyak 5 (lima) kali, sedangkan kata al-‘alim (العالم) terdapat sebanyak 13 (tiga belas) kali.

Penggunaan kata al-‘ulama’ dalam al-Qur’an selalu diawali dengan ajakan merenungi keadaan alam sedangkan kata al-‘alimun merenungi peristiwa yang sudah terjadi sebagai bahan evaluasi. Adapun penggunaan kata al-‘alim dalam bentuk tunggal semuanya mengacu hanya kepada Allah dan selalu diiringi dengan penciptaan bumi dan langit serta hal-hal yang ghaib dan yang nyata.

Berdasarkan pernyataan ayat-ayat al-Qur’an di atas maka dapat dipahami bahwa yang disebut dengan ulama adalah orang-orang yang memiliki kemampuan berpikir tentang alam sehingga hasil dari pemikirannya dapat membuahkan teori-teori baru. Teori-teori inilah yang nantinya dapat membangun peradaban yang tinggi sehingga tugas kekhalifahan dapat dijalankan dengan sempurna. Inilah alasan yang dapat dikemukakan ketika Rasulullah menyatakan bahwa pewaris para nabi adalah al-‘ulama’ bukan al-‘alimun.

Kelompok yang mengartikan ulama dari segi sikap menyatakan bahwa ulama ialah orang-orang yang takut terhadap kekuasaan Allah. Pengertian ulama melalui sikap ini terkesan mempersempit pengertian terhadap ulama sehingga keulamaan seseorang ditentukan oleh sikap yang dimilikinya padahal dalam pengetahuan adalah nihil. Demikian juga bila ulama diartikan dari segi pengetahuan akan terkesan bahwa orang-orang yang berilmu banyak adalah ulama padahal ilmu yang dimilikinya berpeluang untuk melakukan kejahatan-kejahatan.

Pengertian ulama yang paling ideal adalah mengacu kembali kepada penegasan al-Qur’an yaitu orang-orang yang berilmu pengetahuan karena selalu membaca alam dan dampak dari bacaannya ini menimbulkan sikap takut kepada Allah. Oleh karena itu ulama adalah perpaduan antara kepentingan ilmu pengetahuan dan kepentingan moral.

Prinsip yang mendasar dari kedua pandangan ini tetap saja mengacu kepada teks-teks al-Qur’an namun perbedaan pandangan ini seharusnya dikompromikan supaya saling melengkapi karena munculnya sikap adalah ekses dari ilmu pengetahuan. Karakteristik ulama yang sesungguhnya sama dengan karakteristik para nabi yang pada satu sisi bertugas sebagai pembawa risalah dan pada sisi lain bertugas sebagai ri’asah.

Ulasan yang dikemukakan oleh Hamka tentang pengertian ulama terkesan cukup menarik. Menurutnya bahwa ulama bukanlah orang-orang yang mengetahui hukum-hukum agama secara terbatas, dan bukan pula orang-orang yang hanya mengkaji kitab-kitab fiqh, dan bukan pula ditentukan oleh jubah dan serban besar. Malahan dalam perjalanan sejarah telah kerapkali agama terancam bahaya karena serban yang besar.

Perasaan takut ulama kepada Tuhan sebagaimana yang ditegaskan oleh al-Razi karena mereka sudah sampai kepada pendalaman ma‘rifat yang sebenarnya. Prinsip rasa takut kepada Tuhan muncul setelah mengenal sifat-sifat-Nya yang mulia dan perbuatan-perbuatan-Nya yang serasi. Faktor lain menyebabkan takutnya ulama kepada Allah karena pembelaan-Nya kepada ulama dari ancaman orang-orang kafir.

Fenomena kehidupan sosial menunjukkan bahwa telah terdapat (4) empat tahap pergeseran makna ulama. Pertama, ulama dipahami sebagai orang-orang yang memiliki disiplin ilmu yang tidak hanya terbatas kepada bidang agama saja. Kedua, dipahami sebagai orang-orang yang hanya menguasai disiplin ilmu agama dalam berbagai aspek seperti tawhid, tasawuf dan fiqh. Ketiga, hanya terbatas kepada orang-orang yang memahami tentang hukum (fiqh). Keempat, ulama dipahami berdasarkan model pakaian yang digunakannya.

Pergeseran makna ini akhirnya menjadikan kriteria ulama semakin menyempit dan bahkan semakin mudah karena hampir semua orang dapat menjadi ulama. Implikasi yang sangat mudah dirasakan adalah dampak dari fatwa yang dikeluarkan ulama yang seolah-olah tidak memiliki landasan filosofis hukum yang kuat. Fatwa ulama dalam kriteria yang seperti ini sangat mudah dipolitisir dan kekuatannya sangat tentatif karena tidak berakar kepada prinsip kebenaran.

Muhammad Baqir al-Majlisi mengutip pernyataan ‘Ali bin Abi Talib yang membagi golongan ulama kepada 3 (tiga) golongan. Pertama, kaum terpelajar yang sering memamerkan diri dan suka sekali berdebat. Kedua, kaum terpelajar yang hanya ingin mencari kekayaan dan bahkan mereka juga tidak segan-segan menipu. Ketiga, kaum terpelajar yang mendalami keilmuwan dan logika.